Simulasi Kompetisi Menulis
berhadiah 2 tiket PP + voucher menginap di hotel berbintang BALI dari www.nulisbuku.com dan www.tiket.com
rainbow to the cloud
rainbow to the cloud
Langkahku terhimpit suatu akal, desisan hangat menyeruak
begitu saja di telingaku. Entahlah itu apa tapi aku tidak begitu asing dengan
suara ini, menurutku aku kenal namun ada yang berbeda.
Awan berbentuk menyerupai sebuah kisah, yang mana ada banyak
cerita di dalamnya, sempurna! Itu kataku.
Langkah kakiku masih aku teruskan begitu saja, tanpa
menengok kearah belakang, yang terpenting aku bangga bisa menikmati maha
sempurna ini.
Ada suara desisan macam kelopak bunga yang sedang luluh,
tapi sangat ternganga jelas jika aku kenal. Benar aku kenal itu!.
Sekejap sudah aku menikmati sebuah kisah di balik mata sosok
itu, tangannya saling menggenggam menguatkan jemarinya, wajah lusuh seakan
sedang dihantam beribu paku. “Ferly, Lo kenapa?” kataku berusaha mendekat
mengalihkan cerita yang ia buat detik ini.
Membisu!.
Ia masih diam tak ada sentilan kata yang akan ia ucap. Matahari
tetap selalu menyinari dunia ini, tak ada kata lelah untuknya demi dunia, demi
kedamaian.
“Gue banci cinta! Gue benci hidup! Gue benci segalanya”
Aku tersenyum sekilas, sahabat ku ini selalu cengeng jika
berhadapan dengan cinta, lalu mengapa ia merasakannya jika akan berakhir
tangis, sungguh tragis bukan?!.
“Kita yang mulai merasakan cinta, berarti kita juga yang
harus memenangkan perlombaan untuk bahagia” usapan halus aku seruakan untuk
sahabat ku ini, membelai setiap inci wajahnya yang terbekas jejak tangis. Dingin,
menyesal dan haru-itu isinya-.
“Apa lo kenal warna kecuali hitam dan putih?” tanyanya lagi
sebelum ia benar-benar berani membenamkan bola matanya untuk ku.
“Aku menegnal warna itu, dan hanya aku yang mengenalnya. Namun,
semua orang akan menegnal warna hidupku jika kalian mengisi dunia ku”
Matanya yang masih terbentur dengan kaca air mata melekat
tepat dalam mataku, memberi sebuah gumpalan rasa yang ia pendamkan. Tak ada
kata, tak ada arti, semua rasanya tak boleh ada yang mengerti apa terjemahnya,
hanya dia dan dia saja yang mengerti, mereka dan kita tak perlu mengerti.
“Lihat awan itu, fer. Ia membentuk sebuah bentuk, di balik
bentuk ada gumpalan cerita yang mengkisahkan dunianya. Coba tatap cahaya
matahari itu, Fer” Ferly mulai mengikuti instruksi telunjukku, lalu berlahan
menutup kelopak matanya yang sendu nan lemas itu, mungkin ia merasakan berlahan
apa yang pernah aku rasakan.
“Apa kau melihat warna yang banyak, dan dirimu tak bisa kan
mengatakan warna apa saja itu?” berlahan matanya membuka membentuk senyum
simpul di garis bibirnya “Itulah yang aku inginkan dari kata ku. kau bisa
menerawang isi dunia yang bermacam rupanya, bukan tentang tangis saja atau
senyum, namun tentang melawan dan melombakan untuk terus bisa maju”
“Lalu apa hubungannya dengan diri kita ini, yang tak bisa
mengerti harus memilih cinta atau sahabat?” Ferly mulai memasukan pikirannya kearah
ku, ya walaupun hanya melalui mata aku bisa menerawangnya, aku bisa merasaknnya
walau sebersit.
“Jika kau tak membutuhkan cinta, lalu bagaimana kau bisa
bersahabat dengan kita? Sahabat perlu cinta, dan cinta perlu bersahabat, untuk
saling mengerti dan melengkapi” kataku lalu aku balas senyumannya tadi dengan
rangkulan tangan ku.
Tak ada yang perlu kita sesali ketika masalah menerpa, yang
perlu kita sesali hanya kenapa kita bisa terpeleset dengan alur yang menyerupai
duri. Runding dan membuat kita tak bisa meneruskan kearah maju, sekecuali ingin
mati di tempat.